A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Faringitis (dalam bahasa
Latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang
tenggorok atau faring yang disebabkan oleh
bakteri atau virus tertentu. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.(Wikipedia.com)
2. Epidemiologi
Faringitis
terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi
frekuensi yang paling tinggi terjadi pada anak-anak. Faringitis akut
jarang ditemukan pada usia di bawah 1 tahun. Insidensinya meningkat dan
mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi tetap berlanjut
sepanjang akhir masa anak-anak dan kehidupan dewasa. Kematian yang
diakibatkan faringitis jarang terjadi,tetapi dapat terjadi sebagai hasil
dari komplikasi penyakit ini.
3. Etiologi
Faringitis bisa
disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus,
termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis
atau HIV. Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup
A, korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau
Chlamydia pneumoniae.
4. Patofisiologi
Penularan terjadi
melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila
epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi
pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada
stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang
meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan cenderung
menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi,
pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang
berwarna kuning, putih, atau abu-abu terdapat pada folikel atau
jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada
dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi
meradang dan membengkak sehingaa timbul radang pada tenggorok atau
faringitis.
5. Klasifikasi
Berdasarkan lama berlangsungnya
•
Faringitis akut, adalah radang tenggorok yang disebabkan oleh virus
dan bakteri yaitu streptokokus grup A dengan tanda dan gejala mukosa dan
tonsil yang masih berwarna merah, malaise, nyeri tenggorok dan kadang
disertai demam dan batuk.Faringitis ini terjadinya masih baru,belum
berlangsung lama.
• Faringitis kronis, radang tenggorok yang sudah
berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri
menelan, cuma terasa ada sesuatu yang mengganjal di
tenggorok.Faringitis kronis umumnya terjadi pada individu dewasa yang
bekerja atau tinggal dalam lingkungan berdebu,menggunakan suara
berlebihan, menderita batu kronik, dan kebiasan menkonsumsi alcohol dan
tembakau.Faringitis kronik dibagi menjadi 3, yaitu:
− Faringitis hipertrofi,ditandai dengan penebalan umum dan kongesti membrane mukosa
−
Faringitis atrofi kemungkinan merupakan tahap lanjut dari jenis
pertama (membrane tipis, keputihan,licin dan pada waktunya berkerut)
− Faringitis granular kronik terjadi pembengkakan folikel limfe pada dinding faring
Berdasarkan agen penyebab
Faringitis Virus Faringitis Bakteri
Biasanya tidak ditemukan nanah di tenggorokan Sering ditemukan nanah di tenggorokan
Demam ringan atau tanpa demam Demam ringan sampai sedang
Jumlah sel darah putih normal atau agak meningkat Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang
Kelenjar getah bening normal atau sedikit membesar Pembengkakan ringan sampai sedang pada kelenjar getah bening
Tes apus tenggorokan memberikan hasil negatif Tes apus tenggorokan memberikan hasil positif untuk strep throat
Pada biakan di laboratorium tidak tumbuh bakteri Bakteri tumbuh pada biakan di laboratorium
6. Gejala Klinis
Penyakit
ini cenderung akut dengan disertai demam yang tinggi, sakit kepala,
rasa nyeri di perut dan muntah-muntah. Tenggorokan terasa nyeri,
amandel menjadi berwarna merah dan membengkak. Pada anak yang sudah
lebih besar, akan terlihat adanya lapisan seperti krim di atas amandel
(eksudat) yang tidak mengeluarkan darah bila disentuh. Kelenjar getah
bening di leher sering membengkak dan terasa nyeri bila ditekan. Berbeda
dengan faringitis virus, penderita faringitis streptokokus tidak
mengalami rhinitis, suara serak atau batuk.
7. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : kemerahan pada faring,adanya pembengkakan di daerah leher
Palpasi : adanya kenaikan suhu pada bagian leher, adanya nyeri tekan
TTV : suhu tubuh mengalami kenaikan, nadi meningkat, dan napasnya cepat
8. Pemeriksaan diagnostic
Kultur dan uji resistensi
9. Diagnosis
• Pemeriksaan serologic
• Pemeriksaan sputum untuk mengetahui basil tahan asam
• Fotothorak untuk melihat adanya tuberkolusis paru
• Biopsi jaringan untuk mengetahui proses keganasan serta mencari basil tahan asam di jaringan
10. Tindakan penanganan
•
Untuk faringitis virus penanganan dilakukan dengan memberikan aspirin
atau asetaminofen cairan dan istirahat baring. Komplikasi seperti
sinusitis atau pneumonia biasanya disebabkan oleh bakteri karena adanya
nekrosis epitel yang disebabkan oleh virus sehingga untuk mengatsi
komplikasi ini dicadangkan untuk menggunakan antibiotika.
• Untuk
faringitis bakteri paling baik diobati dengan pemberian penisilin G
sebanyak 200.000-250.000 unit, 3-4 kali sehari selama 10 hari.
Pemberian obat ini biasanya akan menghasilkan respon klinis yang cepat
dengan terjadinya suhu badan dalam waktu 24 jam. Erritromisin atau
klindamisin merupakan obat alin dengan hasil memuaskan jika penderita
alergi terhadap penisilin. Jika penderita menderita nyeri tenggorokan
yang sangat hebat, selain terapi obat, pemberian kompres panas atau
dingin pada leher dapat membantu meringankan nyeri. Berkumur-kumur
dengan larutan garam hangat dapat pula meringankan gejala nyeri
tenggorokan dan hal ini dapat disarankan pada anak-anak yang lebih besar
untuk dapat bekerja sama.
11. Komplikasi
Penyakit ini, jika
dibiarkan sampai menjadi berat, dapat menimbulkan radang ginjal
(glomerulonefritis akut), demam rematik akut, otitis media (radang
telinga bagian tengah), sinusitis, abses peritonsila dan abses
retropharynx (radang di sekitar amandel atau bagian belakang tenggorokan
yang dapat menimbulkan nanah).
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
− Data Dasar
•
Identitas Pasien (nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama,
suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat,
diagnosa medis, sumber biaya, dan sumber informasi)
• Identitas
Penanggung ((nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku
bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, dan
hubungan dengan pasien)
− Riwayat Keperawatan, meliputi :
• Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengkaji data subjektif yaitu data yang didapatkan dari klien, meliputi:
Alasan masuk rumah sakit
Pasien mengatakan terasa nyeri di leher dan mengatakan sakit saat menela.
Keluhan utama
Pasien mengatakan nyeri dan merasa tidak nyaman pada daerah leher
Pasien mengatakan mual dan muntah.
Pasien mengatakan sakit saat menelan
Kronologis keluhan
Pasien mengeluh nyeri di leher
• Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Mengkaji
apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit yang sama atau yang
berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita. Misalnya,
sebelumnya pasien mengatakan pernah mengalami infeksi pada saluran
tenggorokan dan pernah menjalani perawatan di RS....
• Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji apakah dalam keluarga pasien ada/tidak yang mengalami penyakit yang sama
• Riwayat Psikososial dan Spiritual
Mengkaji
orang terdekat dengan pasien, interaksi dalam keluarga, dampak
penyakit pasien terhadap keluarga, masalah yang mempengaruhi pasien,
mekanisme koping terhadap stres, persepsi pasien terhadap penyakitnya,
tugas perkembangan menurut usia saat ini, dan sistem nilai kepercayaan.
− Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
Dikaji 14 kebutuhan dasar manusia menurut Virginia Handerson, seperti :
• Bernafas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pernafasan, sesak, atau batuk, serta ukur respirasi rate.
• Makan
Dikaji
apakah klien menghabiskan porsi makan yang telah disediakan RS, apakah
pasien mengalami mual atau muntah ataupun kedua-duanya.
• Minum
Dikaji
kebiasaan minum pasien sebelum dan saat berada di RS, apakah ada
perubahan (lebih banyak minum atau lebih sedikit dari biasanya).
• Eliminasi
Dikaji
pola buang air kecil dan buang air besar. Terutama difokuskan tentang
apakah pasien cenderung susah dalam buang air kecil (kaji kebiasaan dan
volume urine) atau mempunyai keluhan saat BAK.
• Gerak aktivitas
Dikaji
apakah pasien mengalami gangguan/keluhan dalam melakukan aktivitasnya
saat menderita suatu penyakit (dalam hal ini adalah setelah didiagnosa
mengalami Faringitis) atau saat menjalani perawatan di RS.
• Istirahat/tidur
Dikaji
apakah pasien mengalami gangguan pola tidur akibat penyakitnya,
misalnya gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak saat merasa nyeri di leher
• Pengaturan suhu tubuh
Dikaji/ukur
TTV pasien untuk mengetahui keadaan umum pasien, apakah pasien
mengalami demam atau tidak. Selain itu, observasi kondisi pasien mulai
dari ekspresi wajah sampai kulit, apakah kulitnya hangat atau
kemerahan, wajahnya pucat atau tidak.
• Kebersihan diri
Dikaji
kebersihan pasien saat dirawat di RS, bila perlu libatkan keluarga
pasien dalam melakukan perawatan diri pasien, misalnya saat mandi dan
sebagainya.
• Rasa nyaman
Dikaji kondisi pasien yang berhubungan
dengan gejala-gejala penyakitnya, misalnya pasien merasa nyeri di perut
bagian bawah (dikaji dengan PQRST : faktor penyebabnya,
kualitas/kuantitasnya, lokasi, lamanya dan skala nyeri)
• Rasa aman
Dikaji
apakah pasien merasa cemas akan setiap tindakan keperawatan yang
diberikan kepadanya, dan apakah pasien merasa lebih aman saat ditemani
keluarganya selama di RS.
• Sosial dan komunikasi
Dikaji bagaimana interaksi pasien terhadap keluarga, petugas RS dan lingkungan sekitar (termasuk terhadap pasien lainnya).
• Pengetahuan
Dikaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya yang diderita saat ini dan terapi yang akan diberikan untuk kesembuhannya.
• Rekreasi
Dikaji apakah pasien memiliki hobi ataupun kegiatan lain yang ia senangi.
• Spiritual
Dikaji
bagaimana pendapat pasien tentang penyakitnya, apakah pasien menerima
penyakitnya adalah karena murni oleh penyakit medis ataupun sebaliknya.
A. Pengkajian Fisik, meliputi :
• Keadaan Umum, yaitu dengan mengobservasi bentuk tubuh, warna kulit, kesadaran, dan kesan umum pasien (saat pertama kali MRS)
• Gejala Kardinal, yaitu dengan mengukur TTV (suhu, nadi, tekanan darah, dan respirasi)
•
Keadaan Fisik, yaitu melakukan inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi dari kepala sampai anus, tapi lebih difokuskan pada bagian
leher
• Pemeriksaan Penunjang, yaitu dari hasil pemeriksaan laboratorium dengan uji kultur dan uji resistensi
B. Anamnesa
Adanya
riwayat merokok,adanya riwayat streptokokus,dan yang penting
ditanyakan apakah klien pernah mengalami nyeri/lesi pada mulut (nyeri
saat menelan)
2. Diagnosa keperawatan
• Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi pada tenggorokan
• Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dengan sekret yang kental ditandai dengan kesulitan dalam bernafas,
• Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan menelan
• Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi
3. Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
1.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri pasien berkurang
Dengan kriteria hasil: 1.nyeri pasien berkurang dari skala 5 menjadi 3
2.Pasien tidak tampak meringis
3.TTV normal
Nadi:60-100 x permenit
RR:16-20 x permenit
TD:100-140/60-90 mmHg
Suhu:36,8-37,2 C 1. Kaji ulang tingkat nyeri
2. Ajarkan teknik relaksasi
3. Kaji TTV
4. Kolaborasi dalam pemberian analgetik 1. Agar tepat dalam memilih tindakan untuk mengatasi nyeri
2. Meningkatkan relaksasi dan mengurangi nyeri
3. Untuk mengetahui keaadaan umum pasien
4. Untuk mengurangi nyeri
2. Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien dapat bernapas lancar
Dengan kriteria hasil:
1.Pasien dapat mengeluarkan sputum
2.Pasien mengatakan dapat bernapas dengan lancar
1. Identifikasi kualitas atau kedalaman nafas pasien
2. Anjurkan untuk minum air hangat
3. Ajari pasien untuk batuk efektif
4. Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran
1. Untuk mengetahui keadaan napas pasien
2. Untuk mencairkan sputum agar mudah dikeluarkan
3. Untuk melegakan saluran pernapasan
4. Untuk mengencerkan dahak
3. Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi
Dengan kriteria hasil:
1.Pasien mengatakan tidak sakit dalam menelan makanan
2.Pasien makan dengan lahap
3.Nafsu makan pasien meningkat
4.Pasien nampak lebih segar 1. Kaji intake makanan pasien
2. Anjurkan pasien untuk makan makanan yang tinggi kalori dan serat
3. kolaborasi dengan ahli gizi 1. Untuk mengetahui adanya peningkatan nafsu makan
2. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien
3. Untuk mendapatkan menu makanan yang sesuai dengan kebutuhannya
4. Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pengetahuan pasien meningkat
Dengan kriteria hasil:
1.Pasien dapat menyebutkan kembali apa yang dijelaskan perawat
2.Pasien mengangguk dan nampak mengerti
3.Pasien mengatakan mengerti
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien
2. Lakukan BHSP
3. Berikan Health Education
4. Lakukan evaluasi
1. Untuk mengetahui seberapa tahu pasien akan penyakitnya
2. Agar pasien percaya terhadap perawat
3. Untuk menambah pengetahuan dan informasi tentang penyakitnya
4. Untuk mengetahui daya tangkap pasien setelah diberikan HE
4. Evaluasi
• Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi pada tenggorokan
S : Pasien mengatakan nyerinya berkurang (penurunan skala nyeri)
O : Wajah pasien tampak relaks (tidak tampak meringis)
TTV normal
Nadi:60-100 x permenit
RR:16-20 x permenit
TD:100-140/60-90 mmHg
Suhu:36,8-37,2 C
A : Tujuan tercapai
P : Pertahankan kondisi pasien
• Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dengan sekret yang kental ditandai dengan kesulitan dalam bernafas
S : Pasien mengatakan dapat bernapas lancar
O : Pasien dapat mengeluarkan sputum
A : Tujuan tercapai
P : Pertahankan kondisi pasien
• Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan menelan
S : Pasien mengatakan tidak sakit saat menelan makanan
O : - Pasien makan dengan lahap
- Nafsu makan pasien meningkat
- Pasien nampak lebih segar
A : Tujuan tercapai
P : Pertahankan kondisi pasien
• Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi
S : Pasien mengatakan mengerti tentang penjelasan perawat
O : - Pasien dapat menyebutkan kembali apa yang dijelaskan perawat
- Pasien mengangguk dan nampak mengerti
A : Tujuan tercapai
P : Pertahankan kondisi pasien
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Edisi 8. Jakarta: EGC
Carpenito, Lynda Jual. 2002. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC
Guyton, Arthur C., dkk. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif. Et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Prima Medika
Situs internet (www.google.co.id)
Wikipedia.org
sumber : smart-fresh.blogspot.com